Divisi Regional III Sumatera Selatan dan Lampung
| PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Sumatera Selatan dan Lampung | |
|---|---|
Divisi Regional III Sumatera Selatan dan Lampung | |
| Kantor Daop/Divre | |
| Provinsi | Sumatera Selatan |
| Kota | Palembang |
| Kecamatan | Seberang Ulu II |
| Kelurahan | 13 Ulu |
| Alamat | Jalan Jenderal Achmad Yani No. 541 |
| Kode pos | 30263 |
| Informasi lain | |
Divisi Regional III Sumatera Selatan dan Lampung (Divre III Sumsel & Lampung) adalah Divre KAI dengan wilayah kerja Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung yang dipimpin oleh seorang Kepala Divisi Regional (Kadivre) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia.
Daftar isi
Gambaran Umum
Perhitungan jarak rel kereta api dimulai dari stasiun Panjang, Lampung (KM 0) yang telah ditutup sejak beroperasinya Pelabuhan Bakauheni yang menghentikan hegemoni pelayanan kapal penumpang dari pelabuhan Panjang yang terintegrasi dengan jalur kereta api melalui stasiun Panjang. Dari pelabuhan tersebut, ruas jalur kereta api berakhir di Stasiun Prabumulih (Sumatera Selatan) km 332+705. Setelah itu jalur kereta api di Stasiun Prabumulih bercabang dua ke barat dan timur.
Ke arah barat, jalur kereta berakhir di Lubuklinggau (Sumatera Selatan) di Km 549+448, sedangkan ke arah timur kereta berakhir di Kertapati (Palembang, Sumatera Selatan) di km 400+102.
Salah satu keunikan di Divre III ini ialah stasiun pada kota besar satu-satunya di wilayah kerjanya yaitu Palembang tidak terletak di pusat kota seperti halnya kota Bandarlampung yang memiliki Tanjungkarang tepat berada di pusat kota. Kertapati yang tepat berada di tepian sungai Musi menjadi stasiun ujung (rel spoor badug) , dimana jalurnya tak terhubung ke pusat kota sebab kemungkinan Belanda kesulitan untuk membangun jembatan KA melintasi sungai Musi pada masa lalu. [1]
Sejarah

Sekitar tahun 1911, transmigran pulau Jawa yang didatangkan Hindia Belanda ke Lampung pada 1905 berhasil membangun perkebunan kaitsyuk, tembakau, kopi, karet, kelapa dalam, dan kelapa sawit. Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia lalu menganggap sarana angkutan hasil-hasil bumi dari Sumatera Selatan ke pulau Jawa jika terlalu mengandalkan pelayaran laut terlalu banyak memakan biaya dan waktu serta sulit memasuki pelabuhan di Palembang, Krui, dan Menggala. Maka diputuskan reduksi biaya transportasi dan waktu pengiriman hasil bumi dengan membangun rel kereta api dari Palembang ke Tanjungkarang.
Adapun rel KA pertama di Pulau Sumatera dibangun di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), kemudian Sumatera Selatan (1911). Tahun 1911, pembangunan rel KA dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda dengan mengerahkan ribuan orang di Palembang dan di Tanjungkarang.
Rel KA antara Tanjungkarang dan Palembang banyak melintasi hutan, perkebunan karet, perkebunan sawit, dan rawa-rawa. Jalur KA ini berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, di mana rel KA dibangun melintasi perkampungan-perkampungan. Penyebabnya, rel KA di Pulau Jawa disiapkan untuk angkutan manusia, sedangkan rel KA ini disiapkan Belanda untuk mengangkut hasil bumi, hasil hutan, dan perkebunan dari negeri jajahan di Sumatera.
Lintasan kereta di Sumatera Selatan pertama kali dibangun sepanjang 12 kilometer dari Panjang menuju Tanjungkarang, Lampung. Jalur rel ini mulai dilalui kereta pada tanggal 3 Agustus 1914. Pada waktu bersamaan dilaksanakan juga pemasangan dan pembangunan lintasan rel dari Kertapati, menuju Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Sampai 1914, jalur rel lintas Prabumulih hingga Prabumulih mencapai jarak 78 kilometer.
Perlahan, jalur rel kemudian dikembangkan untuk pengangkutan batu bara dari tempat penambangannya di Tanjung Enim. Kemudian dikembangkan juga jalur ke Lahat. Di Lahat ada sebuah bengkel besar kereta (sekarang dinamakan Balai Yasa Lahat) yang berfungsi untuk perbaikan dan perawatan kereta api. [2]
Akhirnya pemerintah Hindia Belanda melalui Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) tuntas membangun rel kereta api di Lampung dan Sumatera Selatan hingga 529 km. Seluruhnya merupakan rel selebar 1.067 mm. Sementara mayoritas negara menggunakan rel selebar 1.435 mm yang menjaga stabilitas kereta lebih baik agar bisa berjalan dengan kecepatan lebih tinggi .
Awalnya, ZSS berencana membangun rel hingga Tapanuli tetapi dihempaskan kebangkrutan perusahaan akibat resesi setelah Perang Dunia I, yaitu Great Depression yang ternyata berdampak ke rel di Sumatera. [3]
- Pembangunan Rel KA di Masa Depan
Sekian lama setelah Indonesia merdeka dan mengelola perkeretaapian di Sumbagsel melalui PT KAI, maka disusunlah rencana pembangunan rel kereta api penghubung Bengkulu dengan Muaraenim yang akan dibangun mulai tahun 2015. Adapun rel kereta api di Bengkulu difokuskan untuk angkutan batu bara seperti umumnya kereta api di Sumbagsel.[4]
Pembagian Wilayah Kerja

Karena wilayah kerja Divre III ini cakupannya cukup luas dibandingkan kedua divre lain di Sumatera dan meliputi dua provinsi yaitu Sumatera Selatan dan Lampung, maka dibagilah dua wilayah (subdivre) dengan fungsi operasional yang serupa dengan Daop KAI di pulau Jawa, namun dengan tingkatan administratif dalam lingkup KAI yang lebih rendah daripada Divre maupun Daop. Divre III memiliki dua subdivre sebagai berikut:
- Sub Divre III.1 Kertapati (KPT)
- Sub Divre III.2 Tanjungkarang (TNK)
Layanan Kereta Api
Kereta Penumpang
- KA Limex Sriwijaya (Palembang Kertapati - Bandarlampung Tanjungkarang)
- KA Rajabasa (Palembang Kertapati - Bandarlampung Tanjungkarang)
- KA Sindang Marga (Palembang Kertapati - Lubuklinggau)
- KA Serelo (Palembang Kertapati - Lubuklinggau)
- Bus rel Kertalaya (Palembang Kertapati - Indralaya/Universitas Sriwijaya)
- KRDI Seminung (Bandarlampung Tanjungkarang - Kotabumi)
- KRDI Way Umpu (Bandarlampung Tanjungkarang - Kotabumi)
Pengangkutan Barang[5]
- KA batu bara rangkaian panjang (KA BBR/babaranjang) PT Bukit Asam (Tanjungenim Baru- Tarahan)
- KA batu bara (KA KPT) PT Bukit Asam Kertapati (Tanjungenim Baru - Palembang Kertapati)
- KA batu bara (KA PT BAU) PT Bara Alam Utama (Sukacinta - Palembang Kertapati)
- KA batu bara (KA PT SB) PT Semen Baturaja (Tanjungenim Baru - Tigagajah)
- KA minyak bumi (KA BBM) (Palembang Kertapati - Lubuklinggau/Lahat/Tigagajah)
- KA semen dalam bentuk klingker (Tigagajah - Palembang Kertapati)
- KA pulp (KA PT TEL) PT Tanjungenim Lestari (Niru - Tarahan)
Stasiun kereta api
- Stasiun Tarahan (THN)
- Stasiun Panjang
- Stasiun Sukamenanti
- Stasiun Tanjungkarang (TNK)
- Stasiun Labuanratu (LAR)
- Stasiun Rejosari (RJS)
- Stasiun Hajimenah
- Stasiun Tegineneng (TGI)
- Stasiun Bekri (BKI)
- Stasiun Haji Pemanggilan (HJP)
- Stasiun Sulusuban (SLS)
- Stasiun Blambanganpagar (BBA)
- Stasiun Kalibalangan (KAG)
- Stasiun Candi Mas (CMS)
- Stasiun Kotabumi (KB)
- Stasiun Cempaka (CEP)
- Stasiun Negara Ratu (NRR)
- Stasiun Tulung Buyut (TLY)
- Stasiun Negeri Agung (NGN)
- Stasiun Blambanganumpu (BBU)
- Stasiun Giham (GHM)
- Stasiun Tanjung Rajo
- Stasiun Way Tuba (WAY)
- Stasiun Way Pisang (WAP)
- Stasiun Martapura (MP)
- Stasiun Gilas (GLS)
- Stasiun Gilasbaru
- Stasiun Sepancar (SPC)
- Stasiun Sepancarbaru
- Stasiun Baturaja (BTA)
- Stasiun Tigagajah (TJH)
- Stasiun Lubukbatang
- Stasiun Belatung (BLT)
- Stasiun Belimbing Air Kaka (BIK)
- Stasiun Lubuk Rukam (LRM)
- Stasiun Peninjawan (PNW)
- Stasiun Metur (MET)
- Stasiun Kotabaru (KOB)
- Stasiun Pagar Gunung (PGG)
- Stasiun Air Asam (ASM)
- Stasiun Sukamerindu
- Stasiun Tanjung Rambang (TJR)
- Stasiun Prabumulih (PBM)
Keterangan :
- Stasiun besar ialah stasiun yang tertulis tebal miring.
- Stasiun menengah ialah stasiun yang tertulis tebal.
- Stasiun kecil ialah stasiun yang tertulis normal.
- Stasiun tak beroperasi ialah stasiun yang tertulis miring.
Penyimpanan, Perawatan, dan Perbaikan Kereta Api
Dipo Lokomotif Kertapati (KPT)
Di dipo lokomotif inilah terdapat lokomotif CC201 hidung miring,dengan eksterior seperti CC203. Di sini banyak terdapat lokomotif-lokomotif merah dan seluruh lokomotif CC204 generasi kedua untuk dinasan KA Batubara Kertapati, KA Batubara Kontener SCT, KA Pulp PT TEL, serta KA penumpang. Di sini pula terdapat armada KRD dan Railbus, serta memiliki KAIS (Kereta Api Inspeksi). Namun, dipo ini tidak memiliki turn table.
Dipo Lokomotif Tanjung Karang (TNK)
Dipo lokomotif ini terletak di ibukota Lampung, yaitu Bandar Lampung. Dipo ini merupakan dipo lokomotif terbesar di pulau Sumatra. Dipo ini merupakan masih satu-satunya dipo yang memiliki lokomotif CC202 dan CC205 untuk melayani dinasan KA batubara atau yang dikenal dengan istilah KA Babaranjang. Fasilitas di dipo ini pun sangat memadai, dipo ini memiliki turntable dan baloon loop untuk memutar lokomotif. Dipo ini juga memiliki kereta derek (crane) yang bernama "Gajah Lampung."
Sub-Dipo Lokomotif
| Nama Dipo | Kode Dipo | Tempat |
|---|---|---|
| Dipo Lokomotif Lubuklinggau | LLG | Divre III Sumatera Selatan |
| Dipo Lokomotif Lahat | LT | Divre III Sumatera Selatan |
| Dipo Lokomotif Prabumulih | PBM | Divre III Sumatera Selatan |
| Dipo Lokomotif Tarahan | THN | Divre III Sumatera Selatan |
Balai Yasa Lahat
Balai yasa ialah satuan tugas PT. KAI yang berfungsi sebagai "bengkel" komponen kereta api, adapun balai yasa Lahat melayani perawatan kereta api di wilayah Sumbagsel. Balai yasa dibangun bersamaan dengan dibangunnya jalan rel Muara Enim - Lahat pada tanggal 21 April 1924 oleh SS dan baru beroperasi tahun 1931 dengan nama Werkplaats.
Awalnya balai yasa ini hanya untuk perawatan gerbong, kereta kayu, dan lokomotif uap. Tahun 1952 mulai merawat kereta baja buatan Beijnes Beverwijk. Lalu tahun 1957 mulai melaksanakan perawatan lokomotif diesel elektrik BB200. Terakhir, pada tahun 1984 melalui Proyek KP3BAKA, balai yasa Lahat diperbarui untuk mendukung KKBW untuk RCD dan lokomotif CC202 bergandar 18 ton. [6]
Galeri

KRDI Way Umpu

Kereta Api Limex Sriwijaya dengan lokomotif CC204 18 melintas langsung Stasiun Labuhanratu

KA Sindang Marga

Lokomotif CC205 dengan rangkaian KA batu bara-nya yang merupakan ciri khas Divre III.

Lokomotif CC202 dengan rangkaian KA batu bara-nya yang merupakan ciri khas Divre III.
Referensi
- ^ http://nasional.kompas.com/read/2008/ 08/16/12311273/Sejarah.Jalur.KA.Lampu ng.Palembang
- ^ http://www.dardela.com/index.php?opti on=com_content&task=view&id=9 3&Itemid=9
- ^ http://nasional.kompas.com/read/2008/ 08/16/12311273/Sejarah.Jalur.KA.Lampu ng.Palembang
- ^ http://www.bengkuluonline.com/2014/01 /pembangunan-rel-kereta-api-dijadwalk an-2015.html
- ^ http://arsip76r.blogspot.com/2012/09/ ka-barang-indonesia.html
- ^ http://semboyan35.com/showthread.php? tid=7151
Pranala luar
| ||||||||||
wiki.ggiklan.com, id.wikipedia.org, indonesia-info.net, dsb.
















